2.3.a.8. KONEKSI ANTARMATERI COACHING UNTUK SUPERVISI
AKADEMIK
Instruksi Penugasan
- Buatlah sebuah kesimpulan dan refleksi yang disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, screencast presentasi, artikel dalam blog, dan lainnya.
- Bacalah pertanyaan-pertanyaan ini untuk membantu Anda membuat kaitan tersebut:
- Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?
- Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran?
- Unggahlah tautan media informasi pada laman LMS.
Coaching ialah sebuah proses kolaborasi yang berfokus
pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi
peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan
pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Whitmore (2003) mendefinisikan
coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan
kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada
mengajarinya.
Coaching dalam konteks pendidikan. Ki Hadjar
Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau
hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya.
Keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk
menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) murid agar mencapai keselamatan dan
kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai
komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan
untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam
memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan
arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.
Peran Saya sebagai seorang coach di sekolah :
1) Fokus pada coachee (rekan yang akan
dikembangkan), yang diawali dengan paradigma berpikir bertumbuh dan
keberpihakan pada murid.
2) Menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) murid agar
mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
3) Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong). Sistem Among,
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi
semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan
menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam
pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua
kekuatan diri pada murid.
Ada 4 (empat) cara berpikir yang dapat melatih
guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap
perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran, yaitu : 1) Coach
& Coachee adalah Mitra Belajar, 2) Emansipatif, 3) Kasih dan
Persaudaraan, dan 4) Ruang Perjumpaan Pribadi.
Paradigma tersebut sangat terkait dengan materi
sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran
sosial dan emosi. Ada 7 (tujuh) alasan Pembelajaran
Berdiferensiasi dilakukan di kelas saya, yaitu : 1) Pembelajaran
Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif; 2) Pembelajaran Berdiferensiasi lebih
bersifat kualitatif daripada kuantitatif; 3) Pembelajaran Berdiferensiasi
berakar pada penilaian; 4) Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa
pendekatan terhadap konten, proses, dan produk; 5) Pembelajaran berdiferensiasi
berpusat pada murid; 6) Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari
pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual; dan 7) Pembelajaran
berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis.
Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar
Murid dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi sangat erat kaitannya
dengan modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik. Pembelajaran
berdiferensiasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang
berpihak pada murid. Agar murid memiliki kompetensi sosial dan emosional yang
baik, maka sangat perlu dibelajarkan dilatih secara kontinu tentang modul 2.2.
Pembelajaran Sosial dan Emosional yang mencakup : 1) Kesadaran Diri, 2) Manajemen
Diri, 3) Kesadaran Sosial, 4) Keterampilan Berelasi, dan 5) Pengambilan
Keputusan yang bertanggung jawab.
Keterkaitan keterampilan coaching dengan
pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran :
Ada 4 (empat) macam paradigma berpikir coaching, yaitu : 1) Fokus pada coachee (rekan
yang akan dikembangkan, 2) Bersikap terbuka dan ingin tahu, 3) Memiliki
kesadaran diri yang kuat, dan 4) Mampu melihat peluang baru dan masa depan.
International Coaching Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai
kemitraan dengan klien (coachee) dalam suatu proses kreatif dan
menggugah pikiran untuk menginspirasi klien (coachee) agar dapat
memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses
yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Prinsip
coaching ada 3 (tiga), yaitu 1) Kemitraan, 2) Proses Kreatif, dan 3)
Memaksimalkan potensi.
Ada 3 (tiga) kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah, yaitu : 1) Kehadiran Penuh/Presence, 2) Mendengarkan Aktif (menyimak), dan 3) Mengajukan Pertanyaan Berbobot. Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure. RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang dijelaskan sebagai berikut: R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan. A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat. S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.
A (Ask/Tanya). Sama dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengajukan pertanyaan:
1) ajukan pertanyaan berdasarkan apa yang didengar dan
hasil merangkum (summarizing).
2) ajukan pertanyaan yang membuat pemahaman coachee
lebih dalam tentang situasinya.
3) pertanyaan harus merupakan hasil mendengarkan yang
mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi.
4) dalam format pertanyaan terbuka: menggunakan apa,
bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana.
5) Hindari menggunakan pertanyaan
tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah”.
Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA.
TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang
dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW
adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal
(Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari
sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal
yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee
dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan
sebuah rancangan aksi. 4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam
membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Tujuan
Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan
pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee).
2) Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi).
3) Rencana Aksi (Pengembangan ide atau
alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat).
4) TAnggung jawab (Membuat komitmen
atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya).
Ada 7 (tujuh) prinsip supervisi akademik dengan
paradigma berpikir coaching, meliputi: 1) Kemitraan: proses kolaboratif antara
supervisor dan guru; 2) Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi
individu; 3) Terencana; 4) Reflektif; 5) Objektif: data/informasi diambil
berdasarkan sasaran yang sudah disepakati; 6) Berkesinambungan; dan 7)
Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik.




















.jpeg)

