Kumpulan Soal - Soal UP PPG Daljab 2022
Alhamdulillah saya merupakan mahasiswa PPG DALJAB TAHUN 2022 ANGKATAN 1 yang sudah menuntaskan semua tahapannya dan dinyatakan LULUS setelah mengikuti ujian akhir. Ini materi-materi yang saya dan teman teman 1 kelompok pelajari ketika mau menghadapi ujian up, semoga bermanfaat dan semoga kalian juga bisa lulus aamiin
Hasil Seleksi Tahap 1 Guru Penggerak Angkatan 8
Berikut Hasil Seleksi Tahap 1 Guru Penggerak Angkatan 8 Provinsi Banten
Cara Menjual Ikan Cupang Ke Luar Negeri
Ini adalah transhipping yang di miliki oleh indonesia yang saya ketahui untuk pengiriman ikan cupang ke luar negeri, jadi jika ikan di beli oleh buyer dari luar indonesia, kita cukup mengirimkan nya ke JBG atau bisa juga ke om hermanus.
Cara Membuat Running Text di website
10 detik membuat running text di googlesite
Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum 2013
Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum 2013 untuk PAUD, SD dan SMP tahun 2022
Friday, January 2, 2026
Saturday, December 13, 2025
Game Edukasi Mengenal dan Membilang Bilangan 1 sampai 10
Game Edukasi Mengenal dan Membilang Bilangan 1 sampai 10
https://id.mykidgames.com/tools/1640.html
https://www.matific.com/id/id/home/maths/episode/flying-flocks-count-up-by-1-2-or-3/?grade=grade-1
https://game.anakrajin.com/belajar-mengenal-nama-bilangan.html
Thursday, December 11, 2025
LATIHAN SOAL - SOAL MENGENAL BILANGAN 1 - 10
- https://lembarsoal.com/matematika/soal/mengenal-bilangan/
- https://anyflip.com/srnvt/yzcr
- https://lembarsoalom/matematika/kelas-1/soal-berhitung-1-10-dengan-gambar/
Tuesday, December 5, 2023
2.3.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 2.3
2.3.a.8. KONEKSI ANTARMATERI COACHING UNTUK SUPERVISI
AKADEMIK
Instruksi Penugasan
- Buatlah sebuah kesimpulan dan refleksi yang disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, screencast presentasi, artikel dalam blog, dan lainnya.
- Bacalah pertanyaan-pertanyaan ini untuk membantu Anda membuat kaitan tersebut:
- Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?
- Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran?
- Unggahlah tautan media informasi pada laman LMS.
Coaching ialah sebuah proses kolaborasi yang berfokus
pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi
peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan
pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Whitmore (2003) mendefinisikan
coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan
kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada
mengajarinya.
Coaching dalam konteks pendidikan. Ki Hadjar
Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau
hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya.
Keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk
menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) murid agar mencapai keselamatan dan
kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai
komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan
untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam
memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan
arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.
Peran Saya sebagai seorang coach di sekolah :
1) Fokus pada coachee (rekan yang akan
dikembangkan), yang diawali dengan paradigma berpikir bertumbuh dan
keberpihakan pada murid.
2) Menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) murid agar
mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
3) Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong). Sistem Among,
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi
semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan
menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam
pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua
kekuatan diri pada murid.
Ada 4 (empat) cara berpikir yang dapat melatih
guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap
perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran, yaitu : 1) Coach
& Coachee adalah Mitra Belajar, 2) Emansipatif, 3) Kasih dan
Persaudaraan, dan 4) Ruang Perjumpaan Pribadi.
Paradigma tersebut sangat terkait dengan materi
sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran
sosial dan emosi. Ada 7 (tujuh) alasan Pembelajaran
Berdiferensiasi dilakukan di kelas saya, yaitu : 1) Pembelajaran
Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif; 2) Pembelajaran Berdiferensiasi lebih
bersifat kualitatif daripada kuantitatif; 3) Pembelajaran Berdiferensiasi
berakar pada penilaian; 4) Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa
pendekatan terhadap konten, proses, dan produk; 5) Pembelajaran berdiferensiasi
berpusat pada murid; 6) Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari
pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual; dan 7) Pembelajaran
berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis.
Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar
Murid dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi sangat erat kaitannya
dengan modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik. Pembelajaran
berdiferensiasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang
berpihak pada murid. Agar murid memiliki kompetensi sosial dan emosional yang
baik, maka sangat perlu dibelajarkan dilatih secara kontinu tentang modul 2.2.
Pembelajaran Sosial dan Emosional yang mencakup : 1) Kesadaran Diri, 2) Manajemen
Diri, 3) Kesadaran Sosial, 4) Keterampilan Berelasi, dan 5) Pengambilan
Keputusan yang bertanggung jawab.
Keterkaitan keterampilan coaching dengan
pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran :
Ada 4 (empat) macam paradigma berpikir coaching, yaitu : 1) Fokus pada coachee (rekan
yang akan dikembangkan, 2) Bersikap terbuka dan ingin tahu, 3) Memiliki
kesadaran diri yang kuat, dan 4) Mampu melihat peluang baru dan masa depan.
International Coaching Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai
kemitraan dengan klien (coachee) dalam suatu proses kreatif dan
menggugah pikiran untuk menginspirasi klien (coachee) agar dapat
memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses
yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Prinsip
coaching ada 3 (tiga), yaitu 1) Kemitraan, 2) Proses Kreatif, dan 3)
Memaksimalkan potensi.
Ada 3 (tiga) kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah, yaitu : 1) Kehadiran Penuh/Presence, 2) Mendengarkan Aktif (menyimak), dan 3) Mengajukan Pertanyaan Berbobot. Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure. RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang dijelaskan sebagai berikut: R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan. A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat. S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.
A (Ask/Tanya). Sama dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengajukan pertanyaan:
1) ajukan pertanyaan berdasarkan apa yang didengar dan
hasil merangkum (summarizing).
2) ajukan pertanyaan yang membuat pemahaman coachee
lebih dalam tentang situasinya.
3) pertanyaan harus merupakan hasil mendengarkan yang
mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi.
4) dalam format pertanyaan terbuka: menggunakan apa,
bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana.
5) Hindari menggunakan pertanyaan
tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah”.
Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA.
TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang
dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW
adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal
(Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari
sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal
yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee
dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan
sebuah rancangan aksi. 4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam
membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Tujuan
Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan
pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee).
2) Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi).
3) Rencana Aksi (Pengembangan ide atau
alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat).
4) TAnggung jawab (Membuat komitmen
atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya).
Ada 7 (tujuh) prinsip supervisi akademik dengan
paradigma berpikir coaching, meliputi: 1) Kemitraan: proses kolaboratif antara
supervisor dan guru; 2) Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi
individu; 3) Terencana; 4) Reflektif; 5) Objektif: data/informasi diambil
berdasarkan sasaran yang sudah disepakati; 6) Berkesinambungan; dan 7)
Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik.
Sunday, November 5, 2023
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1
Pertanyaan Pemantik untuk sesi
pembelajaran ini adalah:
- Apakah saya mengubah pemikiran saya sebagai akibat
dari apa telah saya pelajari?
- Bagaimana perubahan pemikiran tersebut berkontribusi
terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi?
- Bagaimana saya tetap dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini?
1. Apakah saya mengubah pemikiran saya sebagai akibat dari
apa telah saya pelajari?
Pemikiran saya dalam proses pembelajaran
sebelum mempelajari modul 2.1 ini memang belum berfokus pada pembelajaran yang
memperhatikan minat bakat dari murid. Sebelumnya dalam proses pembelajaran di
kelas hanya terpaku pada pemenuhan kebutuhan murid untuk mendapatkan pengetahuan
yang sesuai dengan Kurikulum di sekolah. Setelah mendapatkan pemahaman terkait
dengan pembelajaran yang berpihak pada murid, saya semakin termotivasi untuk
memberikan proses pembelajaran dengan berbagai metode agar murid bisa belajar
dengan nyaman dan konsep tersampaikan secara maksimal. Oleh karena itu saya
mengubah pemikiran untuk pembelajaran yang bukan hanya melihat kebutuhan murid
tetapi juga lebih melihat pada minat dan kemampuan murid dikelas, walaupun hal
ini tidak mudah.
2. Bagaimana perubahan pemikiran tersebut berkontribusi
terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi?
Perubahan pemikiran tersebut sangat kuat
memotivasi diri saya dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi
dikelas. Hal ini dikarenakan perubahan baik yang saya coba di awal pembelajaran
dengan metode yang sangat sederhana, diawali dengan assesmen diagnostik ,
ternyata memberikan hal positif yang luar biasa dalam pendangan maupun
pemahaman saya terhadap proses pembelajaran seutuhnya.
33. Bagaimana saya
tetap dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan
pembelajaran berdiferensiasi ini?
Betul sekali, dalam penerapan pembelajaran
berdiferensiasi tidak lah mudah, banyak tantangan dan hambatan yang akan kita
temui, penerapan yang sudah saya lakukan secara sederhana memang membutuhkan
perhatian dan tindak lanjut yang tidak mudah. Oleh karena saya mencoba untuk
tetap bersikap dan berfikir positif menghadapi kondisi tersebut dengan
mempertimbangkan dan melihat kembali " keunikan dan kelebihan"
yang beragam dikelas.
Refleksi secara individu terhadap perjalanan pembelajaran Berdiferensiasi
1. Simpulan mengenai pembelajaran diferensiasi:
Pembelajaran berdiferensiasi adalah adalah serangkaian keputusan masuk
akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan
murid. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi
adalah pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan murid dengan memperhatikan
aspek kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid. Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan
menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan
keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar).
Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri
seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka
untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).
2. Alasan pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi
kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal.
Karena dalam pembelajaran diferensiasi kita sebagai guru harus
memahami dan mengimplementasikan:
a. Tujuan pembelajaran jelas
b. Kebutuhan belajar siswa terakomodasi
c. Lingkungan yang mengundang siswa untuk belajar
d. Manajemen kelas yang efektif
e. Penilaian berkelanjutan
Pembelajaran diferensiasi dapat memenuhi kebutuhan murid karena pembelajaran dirancang sesuai dengan kesiapan, minat dan profil belajar murid. Murid akan bahagia dalam kegiatan pembelajaran di kelas karena sesuai dengan minat dan kesukaan mereka. Pembelajaran berdifirensiasi juga dapat membantu mencapai hasil belajar yang optimal karena murid yang bahagia dalam pembelajaran otomatis akan menyerap materi pembelajaran dengan sangat baik dan mereka akan menampilkan hasil belajar yang sesuai dengan minat mereka sehingga hasil belajar mereka akan maksimal.
3. Kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak
a. Pembelajaran berdiferensiasi, kaitannya dengan isi Modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan KHD
Fiosofi Pembelajaran KHD menegaskan bahwa pendidikan menghamba pada anak atau
bisa diartikan berpihak kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi,
yakni pembelajaran harus berorientasi kepada kebutuhan murid
b.
Pembelajaran berdiferensiasi, kaitannya dengan Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru
Penggerak
Nilai dan peran guru penggerak yang sudah dimiliki oleh guru akan mendukung
tercapainya pelaksanaan pembelajaran diferensiasi yang efektif di kelas.
Contohnya, nilai guru penggerak, yakni mandiri, kolaboratif, inovatif, berpihak
kepada siswa, dan reflektif tentunya akan sangat mendukung terlaksananya
pembelajaran berdiferensiasi.
c. Pembelajaran
berdiferensiasi, kaitannya dengan Modul 1.3 Visi Guru Penggerak
Salah satu kegiatan yang bisa mendukung tercapainya visi guru penggerak tentang
siswa impian adalah dengan melaksanakan pembelajaran diferensiasi. Pembelajaran
ini bisa mengoptimalkan potensi siswa yang berbeda-beda sehingga mereka bisa
berhasil dalam pembelajaran.
d. Pembelajaran berdiferensiasi, kaitannya dengan Modul 1.4 Budaya Positif
Pembelajaran berdiferensiasi bisa berhasil jika didalamnya dilaksanakan asas budaya positif. Adanya kesepakatan dan nilai disiplin positif akan membuat pembelajaran bisa berjalan secara aman, nyaman, dan berpihak kepada siswa.
Wednesday, October 25, 2023
AKSI NYATA MODUL 1.4 "DESIMINASI BUDAYA POSITIF"
DESIMINASI BUDAYA POSITIF DI SDN 1 SINARGALIH
MATERI BUDAYA POSITIF
VIDEO DESIMINASI
Tuesday, September 12, 2023
Koneksi Antar Materi Modul 1.2
1.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.2
Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):
Peristiwa
Di modul 1.1 dijelaskan tentang tujuan pendidikan, kodrat keadaan, asas trikon, sistem among, budi pekerti, dan lain-lain. Di modul 1.1. saya tercerahkan bahwa anak bukan seperti tabula rasa. Namun, sejak lahir anak sudah membawa kodratnya masing-masing. Ibaratnya kertas, setiap anak sudah memiliki garis-garis samar. Tugas pendidik adalah menebalkan dan memperjelas garis-garis tersebut agar semakin jelas. Saat proses menebalkan dan memperjelas garis, pendidik harus mengutamakan proses menuntun agar proses pendidikan bisa berjalan optimal. Dengan kata lain, pendidikan adalah upaya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki setiap siswa. Tentunya, setiap siswa memiliki potensi yang beragam.
Di modul 1.2., saya belajar mengenai nilai dan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak di antaranya berpihak kepada siswa, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Nilai-nilai tersebut harus dimiliki oleh guru penggerak untuk mendukung perannya. Adapun peran guru penggerak adalah menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan siswa, dan menggerakkan komunitas praktisi. Di materi modul 1.2. saya menjadi tercerahkan untuk bisa memiliki dan menguatkan setiap nilai guru penggerak untuk mendukung peran saya sebagai guru penggerak. Kaitan antara Modul 1.1 dan 1.2 yang saya pahami adalah dua modul tersebut saling mendukung dan berkesinambungan karena dua-duanya pada akhirnya memberi pemahaman untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada siswa.
Perasaan
Saat momen itu terjadi saya merasa seperti bagaikan mendapat Petunjuk Arah yang menguatkan dan mencapai tujuannya. Materi di modul 1.1. dan 1.2. membuka kesadaran saya tentang pendidikan yang berpihak kepada siswa. Saya kadang berpikir, mengapa tidak sejak dahulu saya mendapat materi seperti modul 1.1 dan 1.2.
Pembelajaran
Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa anak lahir di dunia itu seperti Gelas kosong, yakni Gelas kosong yang harus di isi ilmu pengetahuan. Namun, sekarang saya anggapan itu tidaklah benar karena sesuai pemikiran KHD, bahwa anak lahir sudah membawa kodratnya masing-masing. Mereka seperti kertas yang sudah bergaris, tetapi garisnya masih samar-samar sehingga tugas pendidik adalah menebalkannya menjadi lebih jelas. Saya dulu juga berpikir bahwa peran pendidik adalah menyelesaikan materi sesuai dengan capaian kurikulum dan anak - anak mendapatkan nilai tinggi. Namun, sekarang saya berpikir dalam proses pembelajaran kita harus memperhatian latar belakang, minat, bakat, potensi setiap siswa sehingga proses pembelajaran akan berpihak kepada siswa.
Berikut pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai guru penggerak.
- Terus belajar secara mandiri untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada siswa dan pemimpin pembelajaran, baik secara autodidak, melihat praktik baik maupun dengan pelatihan.
- Melakukan asesmen diagnostik, melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi, menciptakan suasana belajar dan lingkungan kelas yang nyaman, aman dan bahagia sehingga pembelajaran berpihak pada murid.
- Selalu melakukan refleksi pembelajaran untuk bahan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran selanjutnya.
- Berkolaborasi dengan pihak lain untuk mendukung terciptanya proses pembelajaran yang berkualitas.
- Melakukan pembelajaran yang inovatif dengan memanfaatkan teknologi dan lingkungan sekitar sekolah.










.png)

.png)
.png)
.png)

__Scene%201%20%E2%80%93%20Pagi%20di%20Sekolah%20(MAJU%20%E2%80%93%20Verse%201)__Shot%20pertama_%20matahari%20terbit%20menerangi%20sekolah._Sangkil%20dan%20Ceria%20berjalan%20(1).jpg)








